Forum: Racun Di Lalat

Anti Jihad wrote:
hai teman2 muslim, buktikan donk kalau kencing onta itu obat, sayap kiri lalat itu racun, sayap kanannya penawarnya, jin nginap di lobang hidung, anjing hitam itu jelmaan setan :). Kalau bisa dibuktikan secara saint gue mau deh mikir2 mualaf 🙂

Abisa respon:

Apologi tentang Lalat.

Orientalis sentiasa meniupkan api keraguan dengan meletakkan ilmu hadis di bawah tajuk ilmu sains. Walhal Al Quran dan Al Hadis itu adalah punca segala ilmu menurut islam.

Ulama Islam membolehkan meminum air itu dengan syarat lalat yang jatuh harus dibenamkan lebih dahulu. Sedangkan para dokter menolaknya, mengharuskan agar air itu dibuang saja. Bagi orang yang kelebihan air hal itu mudah saja membuangnya, tetapi bagi yang kesulitan air, tentu itu tidak mudah. Di sisi yang lain, hal ini juga menjadi isu menarik bagi para oirentalis untuk mengolok-olok ajaran Islam tentang Hadits mengenai lalat ini, sehingga perlu “Apologi Tentang Lalat” seperti judul di atas. Yaitu apologi yang wajar dengan meletakkan isu ilmu pengetahuan di bawah Nash, menjadikan sains sebagai ilmu bantu.

Perihal lalat dipelajari oleh Prof. Brefild tahun 1871. Ilmuwan Jerman dari Universitas Hall ini menemukan bahwa dalam badan lalat terdapat mikrab-mikrab sejenis Fitriat yang diberi nama Ambaza Mouski dari golongan Antomofterali. Mikrab-mikrab ini hidup di bawah tingkat zat minyak dalam perut lalat. Bentuknya bundar yang kemudian memanjang dan keluar dari lingkungan perut melalui lubang pernapasan.

Ambaza Mouski ini berkumpul dalam cel-cel sehingga membentuk kekuatan yang amat besar. Akibatnya cel-cel itu pecah dan keluarlah cythoplasma yang bisa membunuh kuman-kuman penyakit. Cel-cel tersebut terdapat di sekitar bagian ke tiga dari tubuh lalat, yaitu pada bagian perut dan punggungnya. Kedua bagian badan ini tidak pernah mengenai dasar tempat lalat mendarat atau benda apapun saat terbang karena selalu dijaganya.

Tahun 1947, Ernestein dari Inggris juga menyelidiki fitriat pada lalat ini. Hasil penyelidikannya menyimpulkan bahwa fitriat tersebut dapat memusnahkan bermacam bakteri diantaranya bakteri penyebab darah menjadi seperti “grume”, kuman disentri dan typhoid. Pada tahun yang sama, Dr. Muftisch juga meneliti soalan ini dan menyimpulkan bahwa satu cel mikrab ini dapat memelihara lebih dari 1000 liter susu dari bakteri Thyphoid, disentri dan lainnya.

Tahun 1950, Roleos dari Switzerland menemukan pula mikrab-mikrab ini dan memberi nama Javasin. Para peneliti lain yaitu Prof. Kock, Famer (Inggris), Rose, Etlengger (German) dan Blatner (Switzerland) melakukan penyelidikan dan berkesimpulan sama tentang mikrab pada lalat sekaligus membuktikan bahwa berbagai macam penyakit dan bakteri pada lalat hanya terdapat pada ujung kaki lalat saja dan bukan pada seluruh badannya.

Kembali tentang mikrab yang bisa membunuh kuman itu ternyata tidak bisa keluar dari tubuh lalat kecuali setelah disentuh oleh benda cair. Cairan ini bisa menambah tekanan pada cel-cel yang mengandung mikrab penolak kuman sehingga menjadi pecah dan memercikkan mikrab-mikrab istimewa ini. Maka adalah logis bila ingin mengeluarkan mikrab-mikrab penolak kuman dari badan lalat, haruslah membasahi badannya yang berarti menyelupkan lalat yang jatuh tersebut sebelum membuangnya dan dapat meminum air bekas ‘lalat berenang’ itu tanpa perlu ragu lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: